...SELAMAT DATANG DI BLUE-RED PARADE... e-mail : ridhoclosser@yahoo.com ___ Phone number on +6281241066789

Senin, 16 Mei 2011

Pengguna Jalan Berterima Kasih, PKL Mengeluh

*Jalan AP Pettarani Menuju Delapan Lajur

Lebar jalan sepanjang ruas jalan dari pertigaan Sultan Alauddin hingga perempatan Urip Sumoharjo akan ditambah. Semula enam  jadi delapan lajur.  Pengerjaannya bertahap sampai 2013 nanti. Bagaimana nasib pedagang kecil di sekitarnya ?
Aan Pranata, Pettarani
Melintasi Jalan AP Pettarani beberapa hari belakangan mungkin terlihat pemandangan berbeda. Di ujung jalan yang berpotongan dengan Sultan Alauddin, beberapa pekerja silih ganti mengoperasikan kendaraan berat. Ada yang mengeruk tanah, meratakan, juga mengangkut hasil kerukan.
Tahap pertama pengerjaan jalan dilakukan  sepanjang satu  kilometer. Masing-masing 500 meter di kiri dan kanan sisi jalan. Pengerjaannya sudah jalan.  Trotoar yang dulu terbentang di masing-masing sisi jalan tak lagi terlihat. Berganti sisa kerukan tanah yang masih dalam proses perataan. Bunyi alat berat pekerja terdengar jelas setiap pengendara yang melintas.
Pengguna jalan merasa senang dengan bertambahnya lajur di salah satu jalan paling ramai di Makassar tersebut. Rusman, warga Jalan Urip Sumoharjo mengaku sudah sangat wajar Jalan Pettarani diperlebar lantaran volume kendaraan yang terus bertambah. Sebagai pengguna jalan, kemacetan bisa sedikit diminimalisasi lewat pelebaran jalan.
“Saya malah berterima kasih ke pemerintah kota. Selama ini jalan paling macet ada di kawasan Pettarani. Banyak orang yang mengakses jalan itu karena pusat bisnis dan kantor. Jadi, sangat bagus kalau jalannya diperlebar,” kata Rusman.
Rudi, warga yang bekerja di kawasan Panakkukang Mas juga mengapresiasi kebiajakan pemkot atas pelebaran Jalan Pettarani. Dia berharap perlambatan di beberapa titik bisa dikurangi dengan badan jalan yang bertambah. “Median jalan yang lebar bisa dipersempit agar jalannya lebih longgar. Saya senang dengan pelebaran ini,” katanya.
Melebarkan pandangan lebih ke luar sisi jalan, tak jauh beda dengan beberapa waktu sebelumnya. Masih ada puluhan pedagang kaki lima. Berjejer di kiri dan kanan jalan. Jika dulu mereka menjajakan dagangan di atas trotoar, sekarang lokasinya agak menepi lagi. Mengambil tempat tepat di atas got.
Jumlah pedagang kaki lima di sekitar Pettarani yang sedang dalam pengerjaan cukup banyak. Di sisi kiri dari arah Alauddin, berjejer bermacam pedagang makanan. Ada ikan bakar, bakso, nasi goreng, juga coto. Di sisi kanan, semuanya pedagang es kelapa. Jumlahnya tak lebih dari sepuluh.
Pedagang kaki lima di sepanjang Jalan Pettarani masih sering dipertanyakan keberadaannya. Mereka dianggap merusak tata kota. Di lain pihak, mereka mencari makan dengan mengharap rejeki di pinggir jalan.
Pedagang-pedagang kaki lima di sepanjang Pettarani tidak beruntung banyak. Hanya cukup untuk makan sehari-hari. Itu pengakuan mereka di hari-hari biasa. Sekarang, saat jalan tempat mereka berjualan sedang dikerja, kondisinya beda lagi. Jualan semakin menurun.
Menurunnya hasil jualan selama pengerjaan  Jalan Pettarani diakui beberapa pedagang. Ada banyak sebab, mulai dari persoalan parkir hingga kenyamanan pembeli.
Rostina, salah satu pedagang menungkapkan dagangannya menurun drastis selama hampir seminggu pengerjaan jalan. Menurut hitung-hitungannya sendiri, jualan menurun sampai 40 persen. Hitungan tersebut hanya menggunakan perasaan dengan membandingkan hari-hari sebelumnya.
Rostina yang menjajakan sop dan ikan bakar mengakui kurangnya jualan lebih disebabkan situasi yang kurang nyaman selama pengerjaan jalan. Kendaraan proyek pulang balik di depan warung. Tak ada tempat parkir, pembeli pun pikir-pikir untuk singgah. Hal itu ia yakini akan lebih parah jika sedang hujan. Bekas kerukan tanah akan menghasilkan kubangan yang menghalangi pembeli untuk singgah.
Menyikapi pelebaran jalan yang dilakukan pemerintah, Rostina mengaku tidak terlalu mempersoalkannya. Baginya, bisa berjualan dengan tenang setiap hari sudah cukup bagi pedagang seperti dirinya. Ia juga berharap pelebaran jalan tersebut tidak diikuti dengan penggusuran.
“Kami di sini cari makan. Tolong dikasi kesempatan untuk jualan dengan tenang. Mau jalan dikasi lebar atau sempit, itu terserah”, ungkap Rostina dengan logat khas Makassar.
Jika Roslina tidak terlalu menghiraukan pelebaran jalan, lain lagi menurut Rusli. Pemuda yang sehari-hari berjualan es kelapa muda ini mengaku pemerintah sama sekali tidak punya rencana. Hal tersebut menyangkut trotoar yang dihancurkan untuk pelebaran jalan.
Menurut Rusli, sebelumnya trotoar tersebut sudah sangat bermanfaat bagi pejalan kaki dan memperindah kota dari bentuknya yang menarik. Pemerintah membuat kesalahan dengan menghancurkannya, padahal pembangunannya baru beberapa tahun yang lalu. Pelebaran jalan ia akui sebagai pemborosan. “Harusnya dananya dipakai untuk membina warga miskin”, katanya.
Soal hasil dagangan sehari-hari, Rusli tidak jauh beda dengan pedagang lain. Es kelapa muda yang ia jajakan menurun dua kali lipat dibanding hari-hari sebelumnya. Penyebabnya juga terkait kenyamanan pembeli.
“Pembeli kurang yang mau singgah. Banyak debu selama pengerjaan jalan,” tutupnya. (*)

Sumber: Aan's Corner

Tidak ada komentar:

Posting Komentar